Gambaran Status Gizi Remaja Putri di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Abang Kabupaten Karangasem

Authors

  • Ni Luh Karisma Yuni Politeknik Kesehatan Kemenkes Denpasar

DOI:

https://doi.org/10.57185/mutiara.v4i9.545

Keywords:

Remaja Putri, Status Gizi

Abstract

Status gizi remaja putri merupakan indikator penting untuk menilai kesehatan, kesiapan reproduksi, serta risiko anemia. Remaja putri rentan mengalami masalah gizi karena percepatan pertumbuhan, menstruasi, dan pola makan yang tidak teratur. Penelitian ini bertujuan menggambarkan status gizi remaja putri di SMP Negeri 2 Abang berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT), Lingkar Lengan Atas (LILA), dan kadar hemoglobin (Hb). Penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 124 siswi dengan teknik total sampling. Pengukuran BB, TB, dan LILA dilakukan oleh peneliti, sedangkan pemeriksaan Hb dilakukan oleh petugas tenaga kesehatan Puskesmas Abang II. Data dikategorikan berdasarkan standar WHO dan Kemenkes. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswi berada pada kategori gizi normal, yaitu 88 orang (70,97%). Sebanyak 5 siswi (4,03%) sangat kurus, 15 siswi (12,10%) kurus, 10 siswi (8,06%) gemuk, dan 6 siswi (4,84%) obesitas. Temuan ini menggambarkan bahwa meskipun mayoritas berada pada kategori gizi normal, masih terdapat siswi yang mengalami gizi kurang maupun gizi lebih. Secara umum dapat disimpulkan bahwa status gizi remaja putri berada dalam kategori normal, namun masih terdapat masalah gizi ganda (double burden of malnutrition) yang memerlukan perhatian serius. Oleh karena itu, pemantauan status gizi secara berkala, edukasi gizi seimbang, dan pemberian suplemen Tablet Tambah Darah (TTD) tetap diperlukan untuk mencegah anemia dan mempertahankan status gizi yang optimal.

References

Almatsier, S. (2018). Ilmu gizi dasar (6th ed.). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Azizah, S. (2019). Ilmu gizi: Prinsip dan aplikasi (6th ed.). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Azizah, N., Sari, R., & Prasetyo, B. (2022). Status gizi remaja putri dan implikasinya terhadap kesehatan reproduksi. Jurnal Kesehatan Remaja, 8(2), 45–53.

Fitriani, R., Nugroho, H., & Lestari, D. (2020). Hubungan status gizi remaja putri dengan kejadian anemia dan stunting pada anak. Jurnal Gizi Klinik Indonesia, 16(1), 12–18.

Fikawati, S., Kusuma, R., & Hidayat, N. (2017). Dampak defisiensi zat besi terhadap kapasitas kerja remaja. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 12(3), 78–84.

Franklin, M., & Hall, J. (2016). Guyton and Hall textbook of medical physiology (13th ed.). Philadelphia: Elsevier.

Hardinsyah, & Supariasa, I. D. (2016). Ilmu gizi (5th ed.). Jakarta: EGC.

Irianti, F., Haryanto, S., & Dewi, P. (2020). Gambaran kejadian anemia pada remaja putri di Indonesia. Jurnal Kesehatan Indonesia, 11(1), 22–29.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Pedoman gizi remaja: Pencegahan anemia dan kekurangan gizi. Jakarta: Kemenkes RI.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 2 Tahun 2020 tentang standar antropometri remaja. Jakarta: Kemenkes RI. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2021). Profil kesehatan remaja Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Pedoman pelayanan kesehatan remaja putri. Jakarta: Kemenkes RI.

Kusnadi, E. (2021). Anemia defisiensi besi pada remaja putri: Faktor risiko dan penanggulangan. Jurnal Gizi Remaja, 5(2), 33–40.

Marwah, L. (2023). Status gizi remaja putri SMPN 6 Kalukku. Jurnal Gizi & Kesehatan Remaja, 9(1), 15–22.

Muliani, R., Susanti, T., & Hidayat, P. (2025). Hubungan pengetahuan gizi dengan status gizi remaja putri SMPN 5 Kendari. Jurnal Kesehatan Remaja, 11(1), 44–52. https://doi.org/10.36780/jkr.v11i1.2025

Pratiwi, D., Anwar, F., & Sari, R. (2022). Gejala klinis anemia pada remaja putri. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 13(2), 60–68. https://doi.org/10.34011/jukesmas.v13i2.2022

Proverawati, N. (2011). Kesehatan reproduksi remaja putri dan risiko anemia. Jurnal Kesehatan Remaja, 7(1), 10–17.

Rahmat, H. (2022). Status gizi remaja putri dan dampaknya terhadap tumbuh kembang. Jurnal Ilmu Gizi Indonesia, 10(2), 25–32. https://doi.org/10.31227/jigi.v10i2.2022

Robalo, L., Santos, R., & Oliveira, M. (2020). Global anemia prevalence: A review. International Journal of Hematology Research, 14(3), 120–130.

Santrock, J. W. (2018). Life-span development (17th ed.). New York: McGraw-Hill.

Sari, D., & Rahmawati, Y. (2021). Hubungan status gizi remaja putri dengan kejadian stunting pada balita. Jurnal Gizi Klinik, 17(2), 55–62.

Soetjiningsih. (2016). Psikologi perkembangan: Anak dan remaja (4th ed.). Jakarta: PT Bumi Aksara.

Soetjiningsih. (2020). Perkembangan fisik dan psikologis remaja. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Suryani, N. (2018). Faktor sosial ekonomi keluarga terhadap status gizi remaja putri. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 12(2), 45–51.

Sutari, D. A. P. S., dkk. (2023). Hubungan lingkar lengan atas (LILA) dengan risiko kekurangan energi kronis (KEK) pada remaja putri. Karya Tulis Ilmiah. Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Denpasar.

Sutari, D. A. P. S., dkk. (2025). Gambaran kadar hemoglobin pada remaja putri sebagai indikator anemia. Karya Tulis Ilmiah. Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Denpasar.

Suryani, N. (2019). Gizi remaja putri sebagai dasar pencegahan stunting generasi berikutnya. Jurnal Kesehatan Remaja, 8(3), 35–42. https://doi.org/10.36780/jkr.v8i3.2019

WHO. (2011). Haemoglobin concentrations for the diagnosis of anaemia and assessment of severity. Geneva: World Health Organization.

WHO. (2016). Nutritional needs of adolescents. Geneva: World Health Organization.

WHO. (2020). Adolescent health and development. Geneva: World Health Organization.

WHO. (2021). Global standards for adolescent health services. Geneva: World Health Organization.

Downloads

Published

2026-09-25