Dampak Psikologis Penugasan Jangka Panjang bagi ABK Kapal Negara Patroli KN. Chundamani P.116

Authors

  • Alita Mutia Septiani Universitas Hang Tuah
  • Mudiyanto Universitas Hang Tuah
  • Dedy Kristiawan Universitas Hang Tuah

DOI:

https://doi.org/10.57185/mutiara.v4i8.535

Keywords:

dampak psikologis, penugasan jangka panjang, ABK, kapal negara patroli, KN. Chundamani P.116

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak psikologis penugasan jangka panjang bagi Anak Buah Kapal (ABK) Kapal Negara Patroli KN. Chundamani P.116. Latar belakang penelitian didasarkan pada karakteristik unik pekerjaan maritim yang menuntut kesiapsiagaan tinggi, keterbatasan komunikasi, dan keterpisahan dari keluarga dalam jangka waktu lama, yang berpotensi menimbulkan tekanan psikologis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dokumentasi, dan studi pustaka. Informan dipilih secara purposive sampling berdasarkan keterlibatan dan pengalaman langsung dalam penugasan di atas kapal. Data dianalisis menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldaña, meliputi kondensasi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan penugasan jangka panjang menimbulkan tekanan psikologis dipengaruhi keterpisahan dari keluarga, keterbatasan komunikasi, rutinitas kerja berulang, beban tanggung jawab, perubahan jadwal operasi, dan waktu istirahat yang tidak selalu memadai. Temuan utama penelitian mengungkap dampak psikologis yang dialami ABK meliputi kelelahan mental, kejenuhan, gangguan konsentrasi, kecemasan, perubahan suasana hati, dan menurunnya motivasi dalam kondisi tertentu. Dampak tersebut berimplikasi terhadap pelaksanaan tugas, terutama pada aspek konsentrasi, fokus kerja, ketelitian, kerja sama, dan kesiapsiagaan. ABK beradaptasi melalui pengaturan waktu istirahat, ibadah, komunikasi dengan keluarga, diskusi dengan rekan kerja, serta bimbingan dari senior. Penelitian ini menegaskan pentingnya dukungan organisasi berupa rotasi penugasan, fasilitas komunikasi, pembinaan mental, pendampingan personel baru, dan perhatian terhadap kesejahteraan psikologis ABK. Implikasi penelitian ini memberikan kontribusi bagi pengembangan kebijakan pengelolaan sumber daya manusia maritim, khususnya dalam merumuskan pola penugasan yang memperhatikan aspek psikologis ABK, serta menjadi dasar bagi penelitian lanjutan tentang kesehatan mental pekerja maritim di Indonesia.

References

Bakker, A. B., & Demerouti, E. (2007). The job demands-resources model: State of the art. Journal of Managerial Psychology, 22(3), 309–328. https://doi.org/10.1108/02683940710733115

Farhandika, G. A., & Modjo, R. (2025). Kelelahan kerja di kalangan awak kapal: Systematic literature review. Jurnal Ilmiah Kedokteran Dan Kesehatan, 4(3), 95–100. https://doi.org/10.55606/klinik.v4i3.4336

Hermawati, R., & Selatan, J. (2021). Beban kerja dan konflik kerja sebagai penjelas terjadinya stress kerja pelaut. 19(1), 40–50. https://doi.org/10.33489/mibj.v19i1.257

Hystad, S. W., & Eid, J. (2016). Sleep and fatigue among seafarers: The role of environmental stressors, duration at sea and psychological capital. Safety and Health at Work, 7(4), 363–371. https://doi.org/10.1016/j.shaw.2016.05.006

Jonglertmontree, W., Kaewboonchoo, O., Morioka, I., & Boonyamalik, P. (2022). Mental health problems and their related factors among seafarers: A scoping review. BMC Public Health, 22, 282. https://doi.org/10.1186/s12889-022-12713-z

Lazarus, R. S., & Folkman, S. (1984). Stress, appraisal, and coping. Springer Publishing Company.

Li, X., Seah, R. Y. T., Wang, X., & Yuen, K. F. (2022). Investigating the role of sociotechnical factors on seafarers’ psychological capital and mental well-being. Technology in Society, 71, 102138. https://doi.org/10.1016/j.techsoc.2022.102138

Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative data analysis (4th ed.). SAGE Publications Asia-Pacific Pte. Ltd.

Nuraini, & Febriyanto, K. (2025). The impact of mental fatigue on the incidence of occupational accidents among maritime crews. Jurnal Kesmas Jambi, 9(3), 229–239.

Organization, I. L. (2006). Maritime Labour Convention, 2006. International Labour Office.

Organization, I. M. (2019). Guidelines on fatigue (MSC.1/Circ.1598). International Maritime Organization.

Pauksztat, B., Andrei, D. M., & Grech, M. R. (2022). Effects of the COVID-19 pandemic on the mental health of seafarers: A comparison using matched samples. Safety Science, 146, 105542. https://doi.org/10.1016/j.ssci.2021.105542

Rahmadini, N., & Febriyanto, K. (2025). Kelelahan sosial dan risiko kecelakaan kerja pada anak buah kapal di sektor maritim. Jurnal Kesmas Untika Luwuk: Public Health Journal, 16(2).

Rajapakse, A., & Emad, G. R. (2023). Fatigue, an unsolved puzzle that continues contributing to accidents at sea. Marine Policy, 155, 105745. https://doi.org/10.1016/j.marpol.2023.105745

Romadhoni, D., & David, M. (2024). Review of factors affecting psychological health and its impact on the performance of maritime personnel. Jurnal Maritim Malahayati (JuMMa), 5(1), 167–174.

Samekto, A. A. (2024a). Kesejahteraan psikologis awak kapal dalam era. Jurnal Sains Dan Teknologi Maritim, 25, 152–167. https://doi.org/10.33556/jstm

Samekto, A. A. (2024b). Kinerja Awak Buah Kapal (ABK) di pelayaran domestik. Jurnal Sains Dan Teknologi Maritim, 24, 235–250. https://doi.org/10.33556/jstm.v24i2.493

Sugiyono. (2018). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D (19th ed.). Alfabeta.

Yesa, D. S. P., & Dwi Endaryadi, J. H. (2025). The effect of work stress on crew performance. Jurnal Cakrawala Bahari, 8(1).

Downloads

Published

2026-08-12