Budaya Sasi Suku Buton: Tradisi Pengelolaan Sumber Daya Alam yang Berkelanjutan
DOI:
https://doi.org/10.57185/mutiara.v4i5.499Keywords:
sasi, suku buton, kearifan lokal, pengelolaan sumber daya alam, konservasi berkelanjutanAbstract
- Artikel ini membahas budaya Sasi pada masyarakat Suku Buton sebagai bentuk kearifan lokal dalam pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan. Sasi merupakan aturan adat berupa larangan sementara terhadap pengambilan atau pemanfaatan sumber daya alam, baik di wilayah laut maupun daratan, dengan tujuan memberikan kesempatan bagi alam untuk pulih dan menjaga keseimbangan ekosistem. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan mengumpulkan data dari buku, artikel ilmiah, jurnal, serta sumber daring yang relevan. Data dianalisis secara kualitatif deskriptif untuk menggambarkan filosofi, mekanisme pelaksanaan, dampak, serta relevansi Sasi dalam konteks konservasi modern. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa Sasi tidak hanya berfungsi sebagai sistem pengaturan ekologis, tetapi juga mengandung nilai sosial, moral, spiritual, dan budaya yang kuat. Pelaksanaan Sasi dilakukan melalui penetapan wilayah, penentuan durasi larangan, pemasangan tanda, sosialisasi, pengawasan bersama, serta pemberian sanksi adat bagi pelanggar. Tradisi ini berdampak positif terhadap pemulihan populasi sumber daya alam, pelestarian ekosistem, pengurangan konflik sosial, serta keberlanjutan ekonomi masyarakat. Selain itu, Sasi memiliki kesamaan prinsip dengan konsep konservasi modern seperti marine protected areas, hutan adat, dan konservasi berbasis komunitas. Meskipun demikian, pelaksanaan Sasi masih menghadapi tantangan berupa modernisasi, lemahnya pengakuan hukum, dan perubahan sosial. Oleh karena itu, integrasi antara kearifan lokal, regulasi pemerintah, dan edukasi masyarakat diperlukan agar Sasi tetap relevan sebagai model pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.
References
Andrello, M., Guilhaumon, F., Albouy, C., Parravicini, V., Scholtens, J., Verley, P., Barange, M., Sumaila, U. R., Manel, S., & Mouillot, D. (2017). Global mismatch between fishing dependency and larval supply from marine reserves. Nature Communications, 8, 16039. https://doi.org/10.1038/ncomms16039
Aswani, S., Vaccaro, I., Abernethy, K., Albert, S., & Fernández-Llamazares, Á. (2018). Can Shifting Baseline Syndrome Be Measured Empirically? A Case Study from the Solomon Islands. Ocean & Coastal Management, 158, 52–60. https://doi.org/10.1016/j.ocecoaman.2018.03.029
Bhatt, S., Bhatt, M., & Bhatt, A. (2021). Traditional ecological knowledge and biodiversity conservation: Insights from indigenous communities in India. Journal of Environmental Management, 292, 112769. https://doi.org/10.1016/j.jenvman.2021.112769
Buton, P. K. (2020). Dokumen Adat dan Sasi di Buton. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Buton.
Cinner, J. E., & Aswani, S. (2007). Integrating customary management into marine conservation. Biological Conservation, 140(1–2), 201–216. https://doi.org/10.1016/j.biocon.2007.08.008
Colding, J., & Folke, C. (2001). Social taboos: “Invisible” systems of local resource management and biological conservation. Ecological Applications, 11(2), 584–600. https://doi.org/10.1890/1051-0761(2001)011[0584:STISOL]2.0.CO;2
Development, W. C. on E. and. (1987). Our Common Future: Report of the World Commission on Environment and Development. Oxford University Press.
Fabinyi, M., & Liu, N. (2016). Seafood banquets in Beijing: consumer attitudes and implications for environmental sustainability. Conservation and Society, 14(1), 34–45. https://doi.org/10.4103/0972-4923.180648
Fund, W. W. (2018). Community-Based Conservation Practices in Indonesia. WWF Indonesia.
Haryono, S. (2021). Integrasi Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam Berkelanjutan. Jurnal Lingkungan Hidup, 19(3), 201–218.
Hasanuddin, R. (2017). Peran Sasi dalam Pelestarian Sumber Daya Laut Suku Buton. Jurnal Antropologi Indonesia, 35(2), 120–135.
Indonesia, K. L. H. dan K. R. (2019). Hutan Adat dan Konservasi Berbasis Masyarakat di Indonesia. KLHK.
Kadir, M. (2016). Ekologi, Budaya, dan Konservasi di Indonesia. Penerbit Alfabeta.
Kusumawati, R., & Visser, L. E. (2016). Too much, too little: Failure of a community-based marine protected area in the Banda Sea, Indonesia. Ocean & Coastal Management, 130, 40–49. https://doi.org/10.1016/j.ocecoaman.2016.05.010
Lapian, A. (2015). Sasi: Tradisi Pengelolaan Sumber Daya Alam di Sulawesi. Pustaka Nusantara.
Lau, J. D., Hicks, C. C., Gurney, G. G., & Cinner, J. E. (2019). What matters to whom and why? Understanding the importance of coastal ecosystem services in developing coastal nations. Ecosystem Services, 35, 219–230. https://doi.org/10.1016/j.ecoser.2018.12.012
Norström, A. V, Cvitanovic, C., Löf, M. F., West, S., Wyborn, C., Balvanera, P., Bednarek, A. T., Bennett, E. M., Biggs, R., de Bremond, A., Campbell, B. M., Canadell, J. G., Carpenter, S. R., Folke, C., Fulton, E. A., Gaffney, O., Gelcich, S., Jouffray, J.-B., Levin, P. S., … Österblom, H. (2020). Principles for knowledge co-production in sustainability research. Nature Sustainability, 3(3), 182–190. https://doi.org/10.1038/s41893-019-0448-2
Santosa, H. (2018). Kearifan Lokal dan Pelestarian Lingkungan di Indonesia. Lembaga Kajian Budaya dan Lingkungan.
Stacey, N., Gibson, E., Loneragan, N. R., Warren, R., Wiryawan, B., Adhuri, D. S., & Fitriana, R. (2021). Enhancing wellbeing of small-scale fishing communities through participatory development of locally-appropriate marine governance: Cases from eastern Indonesia. Marine Policy, 129, 104548. https://doi.org/10.1016/j.marpol.2021.104548
Sutanto, D., & Ramli, F. (2019). Sasi sebagai Model Konservasi Berbasis Masyarakat: Studi Kasus di Buton. Jurnal Ilmu Lingkungan, 14(1), 45–58.
Tengö, M., Brondizio, E. S., Elmqvist, T., Malmer, P., & Spierenburg, M. (2014). Connecting diverse knowledge systems for enhanced ecosystem governance: The multiple evidence base approach. Ambio, 43(5), 579–591. https://doi.org/10.1007/s13280-014-0501-3



