Perbedaan Kadar Enzim Sgot Dan Sgpt Pada Pasien Tuberkulosis Paru Yang Sedang Mengonsumsi Obat Anti Tuberkulosis (Oat) Dalam Fase Intensif Dan Fase Lanjutan
DOI:
https://doi.org/10.57185/mutiara.v3i4.362Keywords:
SGOT, SGPT, Intensif, Lanjutan, OATAbstract
Tuberkulosis disebabkan oleh oleh basil Mycobacterium tuberculosis, yang menyebar ketika penderita TBC mengeluarkan bakteri ke udara (misalnya melalui batuk). pengobatan tuberculosis diberikan dalam bentuk paket berupa obat anti tuberkulosis kombinasi dasar tetap Obat Anti Tuberkulosis (OAT) secara umum yaitu rifampisin, isoniazid, etambutol, dan pyrazinamide, pengobatan biasanya dibagi menjadi 2 yaitu fase intensif dan fase lanjutan, memiliki efek samping hepatotoksisitas, pemeriksaan fungsi hati yang dapat dilakukan yaitu pemeriksaan SGOT (Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase), SGPT (Serum Glutamic-pyruvic Transaminase). Enzim ini sering dihubungkan dengan kerusakan sel hati. Menganalisis perbedaan kadar enzim SGOT dan SGPT pada pasien Tuberkulosis Paru yang sedang mengonsumsi Obat Anti Tuberkulosis (OAT) dalam fase intensif dan fase lanjutan. Observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Keseluruhan objek yang penderita Tuberkulosis di bulan 26 Maret sampai 4 Mei 2024 dengan kasus aktif yang tercatat pada rekam medis penderita Tuberculosis di UPTD Puskesmas Oepoi Kota Kupang, dipilih menjadi 28 sampel yang terbagi 14 Fase Intensif dan 14 Fase Lanjutan. Uji Mann-Whitney U didapatkan tidak ada perbedaan signifikansi uji beda Mann Whitney sebesar 0.695 untuk kadar SGOT dan untuk kadar SGPT sebesar 0,765 dan kedua nilai tersebut lebih besar dari (>0,05). Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa “H0 diterima”. Maka dari itu dapat dikatakan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan peningkatan kadar enzim SGOT dan SGPT pada pasien fase Lanjutan dan fase Intensif.
References
Annisa, R., Aksa, Z., & Fridayenti, F. (2015). Perbedaan Kadar Sgpt Pada Pasien Tuberkulosis Paru Sebelum Dan Sesudah Fase Intensif Di Poliklinik Paru Rsud Arifin Achmad Pekanbaru. JOM FK, 2(2).
Dinas Kesehatan Provinsi NTT. (2023). Dinas Kesehatan Provinsi NTT. Dinkes NTT.
Hasanah, N., Okta Ratnaningtyas, T., & Razana, A. (2020). Pengaruh Obat Anti Tuberkulosis terhadap Nilai SGPT dan SGOT Berdasarkan Usia dan Jenis Kelamin Pasien Tuberkulosis Paru di RS Sari Asis Ciputat. Jurnal Ilmiah Farmasi, 9(2).
Hidayati, E. (2015). Stigma Dan Pengetahuan Masyarakat Terhadap Tbc Setelah Diberikan Pendidikan Kesehatan Pencegahan Dan Penularan. Jurnal Keperawatan Soedirman, 10(2).
Kanabalan, R. D., Lee, L. J., Lee, T. Y., Chong, P. P., Hassan, L., Ismail, R., & Chin, V. K. (2021). Human tuberculosis and Mycobacterium tuberculosis complex: A review on genetic diversity, pathogenesis and omics approaches in host biomarkers discovery. In Microbiological Research (Vol. 246). https://doi.org/10.1016/j.micres.2020.126674
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Laporan program penanggulangan tuberkulosis tahun 2022.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia tentang pedoman nasional pelayanan kedokteran tata laksana tuberkulosis.
Li, Y. Y., Cai, R. J., Talbot, E. A., & Wang, Y. T. (2023). Mycobacterium tuberculosis. In Molecular Medical Microbiology, Third Edition. https://doi.org/10.1016/B978-0-12-818619-0.00010-1
Marwati, B. I. (2015). Hubungan Efek Samping dan Faktor Sosiodemografi Terhadap Kepatuhan Berobat Penderita Tuberkulosis Paru Rawat Jalan di Puskesmas Kaliwates Jember. Universitas Jember.
Menaldi, S. L. S. Wardhani. (2020). Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tatalaksana Kusta. Kementerian Kesehatan RI.
Putri, T. melinia, & Widodo. (2021). Kadar SGOT , SGPT , dan Bilirubin Total pada Pasien Tuberkulosis Paru. Jurnal Laboratorium Medis, 03(01).
Rahlwes, K. C., Dias, B. R. S., Campos, P. C., Alvarez-Arguedas, S., & Shiloh, M. U. (2023). Pathogenicity and virulence of Mycobacterium tuberculosis. In Virulence (Vol. 14, Issue 1). https://doi.org/10.1080/21505594.2022.2150449
Rosida, A. (2016). Pemeriksaan Laboratorium Penyakit Hati. Berkala Kedokteran, 12(1). https://doi.org/10.20527/jbk.v12i1.364
Ruhi, S., Lio, T. M. P., & Harun, F. M. (2022). GAMBARAN KADAR ALANIN AMINOTRANSFERASE (ALT) PADA PASIEN SKIZOFRENIA TERHADAP TERAPI ANTIPSIKOTIK DI RS JIWA PROVINSI SULAWESI TENGGARA. Jurnal MediLab Mandala Waluya, 6(1), 59–68.
Sigalingging, I. N., Hidayat, W., & Tarigan, F. L. (2019). Pengaruh Pengetahuan, Sikap, Riwayat Kontak Dan Kondisi Rumah Terhadap Kejadian Tb Paru Di Wilayah Kerja Uptd Puskesmas Hutarakyat Kabupaten Dairi Tahun 2019. Jurnal Ilmiah Simantek, 3(3).
Tjay, T. H. (2015). Obat-obat Penting Edisi ketujuh. In Kompas Gramedia.
Ulfa, A. F., & Fatmawati, S. (2023). Hubungan Self-Stigma dengan Tingkat Kepatuhan Minum Obat TBC (OAT) pada Penderita TBC di Wilayah Surakarta. ASJN (Aisyiyah Surakarta Journal of Nursing), 4(1). https://doi.org/10.30787/asjn.v4i1.1150
Ulfa, F., & Handayani, Oktia. W. K. (2018). Higeia Journal of Public Health. Higeia Journal of Public Health Research and Development, 2(2), 227–238.
WHO. (2023). The WHO Special Initiative for Mental Health (2019-2023): Universal Health Coverage for Mental Health. The WHO Special Initiative for Mental Health (2019-2023), May 2024.
Zhai, W., Wu, F., Zhang, Y., Fu, Y., & Liu, Z. (2019). The immune escape mechanisms of Mycobacterium Tuberculosis. In International Journal of Molecular Sciences (Vol. 20, Issue 2). https://doi.org/10.3390/ijms20020340





